Materi Workshop CME Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti 2 September 2012
I. Workshop Assesmen Dan Penanganan Cedera Dermato-Mukuloskeletal
(Assesment and initial treatment of dermato-musculoskeletal injury)
Latar belakang
Cedera Dermato-Muskuloskeletal merupakan kasus yang sering dijumpai dalam praktek dokter umum. Cedera pada kulit khususnya luka robek (vulnus laceratum) dapat menyebabkan terjadinya perdarahan. Penanganan perdarahan tidak tepat dapat mengancam nyawa karena terjadinya perdarahan yang tidak terkendali.
Cedera pada muskuloskeletal yang paling sering terjadi adalah cedera lutut, yang disebabkan oleh berbagai hal, antara lain cedera olah raga dan kecelakaan lalu lintas. Cedera lutut yang terjadi dapat berupa cedera ligamen, meniscus, dan dislokasi sendi lutut. Cedera lutut yang tidak mendapat penanganan awal yang tepat dapat menimbulkan kecacatan dan menurunkan kualitas hidup di kemudian hari.
Sesuai dengan Standar Kompetensi Dokter Indonesia, maka dokter umum harus dapat menegakkan diagnosis dan memberi pertolongan pertama yang tepat sebelum dikirim ke pusat pelayanan kesehatan yang lebih lengkap. Penegakkan diagnosis dan pertolongan pertama yang tepat dapat mempercepat proses penyembuhan, menyelamatkan jiwa pasien, dan mencegah terjadinya kecacatan.
Tujuan Workshop
1. Assesmen dan Penanganan Cedera Kulit: luka robek (vulnus laceratum)
Pada akhir pelatihan diharapkan peserta mampu:
1) Menentukan jenis dan kedalaman luka robek
2) Menentukan kemungkinan adanya cedera pembuluh darah
3) Mengendalikan perdarahan sesuai prosedur yang benar
4) Melakukan prosedur penanganan luka robek: Pencucian luka, Hemostasis, Penjahitan luka, Pembalutan luka
2. Assesmen dan Penanganan Cedera Muskuloskeletal : Cedera Lutut
Pada akhir pelatihan diharapkan peserta mampu:
1) Memperkirakan struktur anatomi lutut (ligamen, meniscus, kartilago) yang mengalami cedera berdasarkan mekanisme cedera
2) Melakukan pemeriksaan spesifik untuk menentukan struktur anatomi lutut yang cedera
3) Melakukan pertolongan pertama pada cedera lutut sesuai prosedur yang benar
4) Melakukan aspirasi cairan sendi jika diperlukan
5) Merencanakan pemeriksaan penunjang yang tepat
6) Melakukan rujukan pada pelayanan kesehatan yang lebih lengkap
II. Workshop Evaluasi Elektrokardiografi pada aritmia yang mengancam jiwa
(Electrocardiography evaluation on life threathening in arrhythmia)
Latar Belakang:
Gangguan irama jantung banyak terjadi di masyarakat, baik gangguan irama yang relatif tidak berbahaya hingga gangguan yang mengancam jiwa. Gangguan dapat disebabkan banyak hal, baik gangguan primer pada jantung itu sendiri seperti misalnya infark miokardium akut atau penyebab dari luar misalnya gangguan elektrolit.
Banyak tanda dan gejala kelainan irama jantung yang sering terlewatkan oleh tenaga kesehatan, sehingga pertolongan pertama pada kasus-kasus gangguan irama seringkali tidak tepat dan pada akhirnya akan membawa efek buruk pada kondisi pasien bahkan kematian.
Dalam workshop ini akan dibahas mengenai pengenalan dan tata laksana umum untuk kasus-kasus kegawatan irama jantung di UGD atau praktek sehari-hari. Di samping itu, akan dibahas juga penggunaan alat-alat bantu penting di UGD seperti defibrilator dan pacu jantung transkutan.
Tujuan Workshop
Pada akhir pelatihan diharapkan peserta mampu:
1) Membaca EKG normal
2) Interpretasi hasil EKG dengan gangguan irama :Bradiaritmia, Takiaritmia, Henti jantung
3) Memahami penatalaksanaan yang harus dilakukan sesuai dengan kondisi atau hasil EKG yang diperoleh
4) Mengenali alat-alat bantu yang dapat digunakan sebagai bagian dari penatalaksanaan dari kasus gangguan irama jantung yang mengancam jiwa.
III. Workshop Deteksi dini pada kasus yang menyebabkan kebutaan
(Early detection on blindness cases)
Latar Belakang
Gangguan penglihatan dan kebutaan masih merupakan masalah kesehatan sosial di Indonesia. Berdasarkan hasil Survey Kesehatan Indera tahun 1993-1996, terdapat tiga penyebab kebutaan terbesar di Indonesia, yaitu katarak (52%), glaukoma (13,4%), dan kelainan refraksi (9,5%). Ketiga jenis penyakit mata tersebut dapat dideteksi dan dikelola sejak dini, sehingga menurunkan risiko terjadinya kebutaan permanen. Dalam rangka penanggulangan gangguan penglihatan dan kebutaan, Kemenkes telah mengembangkan strategi untuk mencapai Vision 2020 , antara lain melalui upaya advokasi, komunikasi dan sosialisasi kepada masyarakat. Dokter umum selaku penyelenggara pelayanan kesehatan terdepan diharapkan memiliki keterampilan klinis umum dan sederhana dalam pemeriksaan mata, sehingga dapat berperan dalam deteksi dini kasus kebutaan. Dokter umum juga diharapkan mampu melakukan rujukan yang tepat pada kasus mata yang perlu tatalaksana lebih spesialistik.
Tujuan Workshop
Pada akhir pelatihan diharapkan peserta memiliki pengetahuan dan keterampilan menggunakan peralatan pemeriksaan mata sederhana yang valid, dalam melakukan upaya deteksi penyebab kebutaan.
IV. Workshop Metode Kontrasepsi Terkini
(Current methode of Contraseption)
Latar Belakang
Dalam menanggulangi permasalahan ledakan penduduk di Indonesia, merupakan kewajiban seorang dokter untuk ikut berperan serta. Salah satu cara berpartisipasi dalam hal ini adalah dengan mensukseskan program keluarga berencana. Berbagai macam kontrasepsi bisa digunakan. Salah satunya adalah AKDR ( Alat Kontrasepsi Dalam Rahim). AKDR ini bisa menjadi pilihan karena efeknya tidak sistemik, tidak ada pengaruh hormonal, mudah didapat dan efektifitasnya tinggi.
Untuk meningkatkan pelayanan kesehatan, terutama yang diselenggarakan oleh dokter pelayanan primer mengenai kontrasepsi, maka kami mengadakan pelatihan pelayanan kontrasepsi khususnya AKDR.
Tujuan Workshop
Pada akhir pelatihan diharapkan peserta mampu:
1) Melakukan konseling seputar kontrasepsi
2) Melakukan tindakan pemasangan AKDR
3) Melakukan penanganan efek samping berbagai metoda kontrasepsi khususnya AKDR
V. Workshop Metode Vaksinasi Terkini
(Current methode of vacctination)
Latar Belakang
Vaksinasi atau lazim disebut dengan imunisasi merupakan suatu teknologi yang sangat berhasil di dunia kedokteran yang oleh Katz (1999) dikatakan sebagai ”sumbangan ilmu pengetahuan yang terbaik yang pernah diberikan para ilmuwan di dunia ini”. Vaksinasi merupakan suatu upaya peningkatan taraf kesehatan, dalam hal pencegahan penyakit yang paling efektif dan efisien dibandingkan dengan upaya kesehatan lainnya.
Kemajuan yang pesat dalam bidang ilmu pengetahuan khususnya ilmu pengetahuan dan teknologi ilmu kedokteran menuntut tersedianya sumber daya manusia yang handal dan terampil serta profesional dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, khususnya dalam hal pencegahan penyakit. Sesuai Standar Kompetensi Dokter Indonesia, maka seorang dokter perlu mtemiliki kompetensi dalam melakukan tindakan vaksinasi
Tujuan Workshop
Pada akhir pelatihan diharapkan peserta mampu:
1) Memahami berbagai jenis vaksin
2) Memahami berbagai jenis semprit
3) Menjelaskan dasar-dasar imunisasi dan imunisasi dasar di Indonesia.
4) Mengetahui kontra indikasi pemberian vaksin
5) Melakukan manajemen program dan prosedur vaksinasi dasar bayi, balita dan anak sekolah.
6) Melakukan prosedur vaksinasi yang benar:
Perencanaan
Cold chain vaksin
Pelaksanaan dan penyuntikan vaksin
Penanganan kejadian efek samping pasca Imunisasi(KIPI),
Pelaporan dan evaluasi.
7) Melaksanakan metode safety injection
8) Memahami pembuangan limbah dengan benar
VI. Workshop Diagnostik komprehensif pada Tuberkulosis
(Comprehensive diagnostic of tuberculosis)
Latar Belakang
Penegakkan diagnosis yang tepat diperlukan dalam penanganan kasus TBC. Ada beberapa pemeriksaan penunjang yang perlu dilakukan yaitu Pemeriksan sputum, ronsen toraks dan Mantoux test.
Pemeriksaan sputum penting karena dengan ditemukannya kuman BTA, diagnosis tuberkulosis sudah dapat dipastikan. Disamping itu pemeriksaan sputum dapat memberikan evaluasi terhadap pengobatan yang diberikan. Masalah dalam pemeriksaan sputum adalah kesulitan dalam mendapatkan sputum, terutama penderita yang tidak batuk atau pada anak –anak. Kesulitan dalam mendapatkan sputum terjadi karena pada umumnya sputum langsung ditelan oleh pasien. Kriteria sputum BTA positif adalah bila sekurang – kurang nya ditemukan tiga batang kuman BTA padasuatu sediaan. Dengan kata lain diperlukan 5.000 kuman dalam 1 m
Pemeriksaan penunjang rontgen thorax sangat diperlukan untuk menegakkan diagnosis tbc paru. Oleh karena itu seorang dokter umum diharapakan mampu menegakkan diagnosis melalui pembacaan rontgen thorax dengan benar
Pemeriksaan Mantoux atau dikenal juga sebagai PPD test atau tuberculin test adalah suatu alat diagnosis untuk tuberkulosis pada anak. Pemeriksaan mantoux memiliki nilai diagnosis yang tinggi dan menjadi standar dalam menegakkan diagnostic tuberkulosis pada anak.
Tujuan Workshop
Pada akhir pelatihan diharapkan peserta mampu:
1) Melakukan pemeriksaan dan penilaian sputum sesuai dengan standar kompetensi dokter umum: Prosedur pengambilan sputum, Prosedur pemeriksaan makroskopis dan mikroskopis sputum.
2) Pemeriksaan dengan sediaan pulasan pewarnaan menurut Wright-Giemsa, yang terdiri dari pulasan gram dan pulasan tahan asam (Ziehl-Nielsen)
3) Melakukan interpretasi foto ronsen toraks dengan benar untuk menegakkan diagnosis tbc paru.
4) Melakukan pemeriksaan mantoux dan interpretasi hasil sesuai dengan prosedur yang berlaku.
Simposium “Tropical Disease Update” 1 September 2012 dan Workshop “Clinical Skills In Daily General Practice” 2 September 2012.
Sekretariat
FK USAKTI Jl Kyai Tapa Grogol Jakarta Barat
Ph : 021 – 5672731, 5655786 ext 2204
fax : 021 – 5660706
Kontak :
Rita Khairani, dr, MKes, SpP (0815 9949 919)
Noviyanti, dr (0815 1090 8921)
Yuniarti, SKom (0816 4848 651)
Djoko Widodo
Division of Tropical Medicine and Infectious Disease, Department of Internal Medicine University of Indonesia
Abstract
Antibiotics rational usage now going to be a new challenges in 21st century. Many crucial micro-organism resistance problems were caused by antibiotics misuse. The prudent used of antibiotics need to be conducted in case for eradicating microorganism avoiding the collateral damage or resistance, and reaching a better cost effective.
Antibiotics usage in primary care will be ajJected by the physician knowledge which should consider the host condition, infection setting, microorganism susceptibility and both of drugs pharmacokinetic and pharmacodynamic. All of these consideration will guide physician to determine the empirical antibiotics treatment which were usually described in guidelines and consensus.
Now in the worldwide, there are four indication for antibiotics treatment: prophylaxis, pre-emptive, empirical, and definite. The majority problem of antibiotic usage were how to chose antibiotics empirically and properly. Good clinical outcomes were may showed if antibiotics were used properly. Hospital rational antibiotics usage could be evaluated by Gyssens method or any other that and measured adequacy the of ways, appropriation antibiotics.
Key words : antibiotics, usage, indication
Antibiotics in Renal Impairment
Suhendro
Division of Tropical Medicine and Infectious Disease
Department of Internal Medicine University of Indonesia
Abstract
In several cases of infection, renal impairment often arise become a problem that need to be concerned. Clinicians should eradicate pathogens beside considering the nephro-toxicity effect. To determine the antimicrobial using, the pharmacodynamic and pharmacokinetic of the drug should be fully understood. It will be related to dose or time adjusted when giving antibiotics for patients with renal impairment.
Oral antibiotics were relatively more safe than intravenous antibiotics. Usually, blood Cmax of oral antibiotics was lower than intravenous antibiotics, but the type of antibiotics also need to be concerned. There were two type of antibiotics : Dosed dependent Antibiotics and Time dependent Antibiotics. In the case of renal impairment, Dose dependent antibiotics such as : aminoglycoside suppose to be time adjusted when it’s given. But time dependent antibiotics such as : cephalosporine or carbapenem need to be dose adjusted when it’s administered.
A few kind of 3rd gen of cephalosporine such as : Ceftriaxone and Cefoperazone didn’t need adjust for renal impairment. They relatively safe with minimal nephro-toxicity effect. The antibiotics using in renal impairment should be done carefully even for patients with chronic hemodialysis.
Key Words Antibiotics, renal impairment
Eradicating Community Associated Methicillin Resistant Staphylococcus aureus
Ronald Irwanto Department of Internal Medicine University of Trisakti
Abstract
Methicillin Resistant Staphylococcus aureus (MRSA) was a S.aureus that resistant to betalactam with typical resistant to aminoglycoside, chloramphenicol, clindamycin, fluorquinolone and macrolides. MRSA now known as a global problem in world wide, in which, MRSA was spread both in communities and hospital. In community, that is called as Community Associated - MRSA, often appear as a definitive causal of infection, but also frequently found only as a colonization.
People with MRSA infection usually shows severe symptoms which caused by the panton-valentin leucocydin that produced by MRSA that have any high tissue toxicity.
Laboratory findings such as: direct gram smear, bacterial culture, or PCR should be used to prove the MRSA infection. MRSA infection has worst survival compared with MSSA, and faster eradication should be done to reduce mortality and morbidity.
Glycopeptide group (e.g. vancomycin and teicoplanin), or oxazolidindiones (linezolid) still in the front line for MRSA treatment. Linezolid was recognized as a narrow spectrum antibiotic. It was resistant to gram negative (e.g infuenza, Pseudomonas spp, etc), but has high sensitivity to gram positive and MRSA. Sulfa can also used to eradicated the Community Associated MRSA in daily practice.
Key Words: Eradication, MRSA
Antibiotics Treatment for Elderly
Herdiman T. Pohan
Division of Tropical Medicine and Infectious Disease, Department of Internal Medicine University of Indonesia
Abstract
Elderly with several specification now known need to be treat distinct antibiotics empirically and properly. Good clinical outcomes were may showed if antibiotics were used properly. Hospital rational antibiotics usage could from regular adult. Geriatric host special character should be lead to the severe infection, in which all these character should increased susceptibility to infections.
High morbidity and mortality, atypical clinical presentation need to be concerned by physician, that the presumption diagnostic done rather than etiologic diagnostic. Antibiotics treatment should be done carefully be done carefully and properly. Side effects of antibiotic treatment frequently ended as a multi-complication of polypharmacy and also appear the high cost of treatment, that’s why, antibiotics management in elderly should be included right indication, dosage, regimens, and should pay attention for the cost effectiveness. Setting of infection event, there were : community or hospital, and also source of infection such as : Lung, Skin and soft tissue infection, UTI. and GI tract infection should identified before treatment administering.
Key Words: Antibiotic. elderly
PENGGUNAAN ANTIBOTIKA SELAMA KEHAMILAN.
Laksmi Maharani
Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti
Antibiotika adalah senyawa kimia yang dihasilkan oleh suatu mikroorganisme atau dihasilkan secara sintetik yang dapat membunuh atau menghambat perkembangan bakteri dan organisme lain. Antibiotika banyak digunakan dalam kehamilan. Prinsip utama pemakainan antibiotika pada kehamilan adalah memikirkan penggunaan yang tepat agar efek samping bagi ibu dan janin menjadi minimal.
Seorang wanita hamil dapat sangat rentan dan mudah mengalami suatu infeksi berat. Lingkungan hormonal pada kehamilan memberi kontribusi tersupresinya imunitas sehingga infeksi bakteri, virus dan parasit lebih mudah terjadi. Oleh karena itu kehamilan merupakan faktor resiko untuk terjadinya beberapa penyakit infeksi. Infeksi yang mengenai ibu selama kehamilan dapat ditransmisikan ke janinnya baik selama persalinan dan masa nifas, beberapa diantaranya dapat memberi dampak yang serius.
Infeksi saluran kemih merupakan infeksi yang sering terjadi selama kehamilan. Bakteriuria asimtomatik ditemukan pada 4-7% wanita hamil. Selain itu infeksi saluran nafas bagian atas juga biasa terjadi dengan konsekuensi minimal. Infeksi gastrointestinal biasanya ringan dan terkadang tidak memerlukan obatobatan khusus. Dapat pula terjadi demam saat persalinan. yang biasa disebabkan oleh ketuban pecah dini, pielonefritis dan influenza.
Masalah yang terjadi sekarang adalah adanya resistensi antibiotic spectrum luas yang semakin meningkat. Banyak strain kuman yang sudah resisten pada antibiotic b-lactam atau sefalosporin spectrum luas. Oleh karena itu perlu dipikirkan pemakaian antibiotika yang rasional.
Pemakaian Antimikroba di Bidang Pediatri
Tubagus Ferdi Abdilah
(Bagian Imu Kesehatan Anak ,Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti)
Abstrak
Terapi antimikroba pada bayi dan anak-anak menyajikan banyak tantangan. Dalam memilih antimikroba untuk pasien anak, diperlukan pemahaman farmakologi klinis obat yang akan dipergunakan. Farmakologi klinis obat mengupas farmakodinamik obat yaitu interaksi. antara pejamu dengan obat, dan farmakokinetiknya mengenai pengetahuan bagaimana cara tubuh pejamu mengamankan pengaruh obat tersebut. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah dosis, cara pemberian, dan indikasi pengobatan antimikroba: apakah sebagai pengobatan awal (pengobatan empiris), pengobatan definitif (berdasarkan hasil biakan) atau untuk pencegahan (profilaksis) .
Klinisi harus mempertimbangkan perbedaan-perbedaan penting di antara berbagai kelompok umur dari spesies patogen yang bertanggung jawab untuk infeksi bakteri; sesuai dengan usia dan toksisitas antibiotik dosis juga harus dipertimbangkan. Terapi antibiotik spesifik optimal didorong oleh diagnosis mikrobiologis, seperti isolasi patogen, dan didukung oleh pengujian resistensi antimikroba
Terdapat beberapa dasar perbedaan anak dengan orang dewasa pada penggunaan antimikroba. Sebagai contoh, volume distribusi beberapa jenis obat Iebih besar pada anak daripada dewasa sehingga eliminasi waktu paruhnya pun lebih lama. Demikian pula daya ekskresi dan eliminasi obat pada anak lebih tinggi daripada dewasa. Sebaliknya daya ekskresi dan eliminasi pada neonatus reridah seiring dengan maturasi organ yang berperan pada metabolisme obat.
Optimizing antimicrobial treatment with PK-PD
Rianto Setiabudy,
Department of Pharmacology, Faculty of Medicine. University of Indonesia
Abstract
In the past, achieving high plasma concentration of antibiotic is believed to be the key determinant for a successful antimicrobial therapy. Today, however, various reports indicate that further information is needed to optimize antimicrobial treatment. New findings in pharmacokinetics and pharmacokinetics (PK/PD) suggest that the killing pattern of each antimicrobials have important impact on how the antimicrobials should be given.
The integration of PK/PD has introduced a new strategy to kill the responsible pathogen more quickly. This results in not only a better clinical outcome, but also with a reduced problem of resistance because the immediate death of the microorganism curtails opportunity for the pathogens to mutate. The currently accepted concept of pharmacodynamics and pharmacokinetics has also necessitated the National Committee of Clinical Laboratory Standards (NCClS) to redefine the breakpoint of susceptibility which are relatively higher than the old one.
Depending on their kinetic killing properties, antimicrobial agents can exhibit concentration-dependent or timedependent killing pattern. The clinical consequent of these findings is obvious. Antimicrobials exhibiting concentrationdependent activity must be given by intravenous bolus, while those showing time-dependent activity must be given either by continuous infusion or by frequent administrations.
Antimicrobials to be given in high dose bolus may result in toxicity, while those administered by continuous infusion may be confronted with the problem of instability of the drug in the solution. These need to be carefully considered by the clinicians in applying the PK-PD in daily practice.


