Marhaban yaa Ramadhan….

Marhaban yaa Ramadhan,….

Ya Allah, telah tiba bulan Ramadhan. Wahai Tuhan pemilik bulan Ramadhan,
Engkau telah menurunkan Al-Qur’an di dalamnya dan telah menjadikannya
sebagai penjelas atas petunjuk dan pembeda antara yang hak dan yang batil.
Wahai Tuhan kami, berkatilah kami di dalamnya dan bantulah kami dalam
melaksanakan puasa dan menunaikan shalat di dalamnya. Terimalah amal-amal
kami di bulan ini.”

“Ya Allah, segala puji bagiMu yang telah membimbing kami untuk memujiMu
supaya kami mengerti bersyukur atas segala kebaikanMu dan supaya Engkau
membalas kami dengan balasan yang Kau berikan pada mereka yang berbuat
kebajikan.

Segala puji bagi Allah yang menganugerahi kami dengan agamaNya,
mengistimewakan kami dengan millahNya dan menunjukkan kami jalan-jalan
kebaikanNya, dengan pujian yang Dia terima dari kita dan membuatNya ridha
kepada kita.

Segala puji bagi Allah yang menjadikan di antara jalan-jalan (kebaikanNya)
adalah bulan Ramadhan, bulan puasa, bulan Islam, bulan kesucian, bulan
pembersihan, bulan menegakkan shalat malam, bulan yang di dalamnya Al Qur’an
diturunkan sebagai penyuluh dan (rincian) penjelasan petunjuk dan pembeda
bagi manusia. (QS Al Baqarah: 185).

“Allahumma bariklana fii rajab wa sya’ban wa balighna Ramadhan”

Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab, Sya’ban dan sampaikanlah kami ke
bulan Ramadhan (HR. Ahmad dan Thabrani)

Alhamdulillah, Segala puji bagi Allah yang menjadikan Ramadhan sebagai
penghulu bulan-bulan dan melipatgandakan pahala kebaikan di dalamnya.
Shalawat beserta salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Saw. yang
telah diturunkan Al-Qur’an kepadanya sebagai petunjuk, rahmat, nasehat, dan
penyembuh bagi manusia.

Alangkah bahagianya kaum muslimin dengan kedatangan bulan tersebut, bulan
yang penuh keberkahan, bulan Al-Qur’an, bulan ampunan, bulan kasih sayang,
bulan doa, bulan taubat, bulan kesabaran, dan bulan pembebasan dari api
neraka.  Bulan yang ditunggu-tunggu kedatangannya oleh segenap kaum
muslimin. Bulan yang sebelum kedatangannya Rasulullah Saw. berdoa kepada
Allah:
“Ya Allah berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami
ke bulan Ramadan.” Bulan dimana orang-orang saleh dan para generasi salaf
berdoa kepada Allah agar mereka disampaikan ke bulan Ramadhan enam bulan
sebelum kedatangannya.
Mualla bin al-Fadhl berkata: “Mereka selama enam bulan berdoa kepada Allah
supaya disampaikan ke bulan Ramadhan, dan berdoa enam bulan selanjutnya agar
amalan mereka pada bulan Ramadhan diterima.”   Kenapa mereka begitu
bersungguh-sungguh memohon kepada Allah agar disampaikan ke bulan Ramadhan?
Mari kita dengarkan sabda Rasulullah Saw. ketika beliau memberi kabar para
sahabatnya dengan kedatangan bulan Ramadhan: “Ketika datang malam pertama
dari bulan Ramadhan seluruh setan dibelenggu, dan seluruh jin diikat. Semua
pintu-pintu neraka ditutup, tidak ada satu pintu pun yang terbuka. Semua
pintu sorga dibuka hingga tidak ada satu pun pintu yang tertutup. Lalu tiap
malam datang seorang yang menyeru: “Wahai orang yang mencari kebaikan
kemarilah; wahai orang yang mencari keburukan menyingkirlah. Hanya Allah lah
yang bisa menyelamatkan dari api neraka”. (H.R.Tirmidzi).

Rasulullah Saw. juga bersabda: “Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan,
bulan yang diberkahi. Allah telah mewajibkan di dalamnya puasa. Pada bulan
itu Allah membuka pintu langit, menutup pintu neraka, dan membelenggu
setan-setan. Di dalamnya Allah memiliki satu malam yang lebih baik dari
seribu bulan. Barang siapa yang diharamkan kebaikan malam itu maka ia
sungguh telah diharamkan (dari kebaiakan).” (HR. Nasa’i dan Baihaki). Imam
Ibnu Rajab al-Hanbali mengomentari hadits ini dengan perkataannya: “Hadits
ini merupakan dasar dan dalil memberi ucapan selamat yang dilakukan kaum
muslimin kepada muslimin lainnya dengan kedatangan bulan Ramadhan, bagaimana
seorang mukmin tidak bergembira dengan dibukanya pintu sorga? Bagaimana
seorang mukmin tidak bergembira dengan ditutupnya pintu neraka? Bagaimana
orang yang berakal tidak bergembira dengan masa dimana setan-setan
dibelenggu?” Hendaklah kita juga mencontohnya dengan senantiasa berdoa
kepada Allah agar disampaikan ke bulan Ramadhan yang penuh dengan berbagai
macam keberkahan dan keutamaan tersebut.

Ramadhan adalah tamu istimewa. Adalah merupakan kewajiban bagi kita sebagai
tuan rumah untuk menyambut kedatanganya dengan suka cita dan memuliakannya.
Jika ada seorang presiden atau petinggi negara akan berkunjung ke rumah kita
pasti kita akan direpotkan dengan berbagai persiapan untuk menyambutnya.
Kita pasti akan menata dan memperindah rumah kita, menyiapkan makanan
istimewa dan lain-lain. Ramadhan lebih dari sekedar presiden atau pejabat
tinggi lain atau apa pun saja. Ramadhan adalah anugerah Allah yang luar
biasa. Ramadhan adalah kesempatan untuk menyiapkan masa depan kita di dunia
dan akhirat; oleh karenanya kita mesti mempersiapkan kehadirannya dengan
persiapan yang paripurna agar kita bisa sukses meraih gelar takwa dan
mendapat janji Allah yaitu ampunan dan bebas dari api neraka.

Apa saja perkara yang harus dipersiapkan menjelang kedatangan tamu tersebut?

1) Niat yang sungguh-sungguh
Ketika Ramadhan menjelang banyak orang berbondong-bondong pergi ke pasar dan
supermarket untuk persiapan berpuasa. Mereka juga mempersiapkan dan
merencanakan anggaran pengeluaran anggaran untuk bulan tersebut. Tetapi
sedikit dari mereka yang mempersiapkan hati dan niat untuk Ramadhan. Puluhan
kali Ramadhan menghampiri seorang muslim tanpa meninggalkan pengaruh positif
pada dirinya seakan-akan ibadah Ramadhan hanya sekedar ritual belaka,
ssekedar ajang untuk menggugurkan kewajiban tanpa menghayati dan meresapi
esensi ibadah tersebut, jika Ramadhan berlalu ia kembali kepada kondisinya
semula.
Tancapkanlah niat untuk menjadikan Ramadhan kali ini dan selanjutnya sebagai
musim untuk menghasilkan berbagai macam kebaikan dan memetik pahala
sebanyak-banyaknya. Anggaplah Ramadhan kali ini sebagai Ramadhan terakhir
yang kita lalui karena kita tidak bisa menjamin kita akan bertemu Ramadhan
di tahun-tahun berikutnya. Tanamkan tekad yang disertai dengan keikhlasan
untuk konsisten dalam beramal saleh dan beribadah pada bulan Ramadhan ini.
Ingat sabda Rasulullah Saw.: “Barangsiapa yang puasa Ramadhan karena iman
dan ikhlas maka Allah akan mengampuni dosanya yang telah lalu.”

2) Bertaubat dengan sungguh-sunguh.
“Setiap manusia adalah pendosa dan sebaik-baik pendosa adalah yang
bertaubat” demikian sabda Rasulullah Saw. seperti yang diwartakan Ahmad dan
Ibnu Majah.
Di antara karunia Allah adalah selalu mengulang-ulang kehadiran momen-momen
kebaikan. Ada momen yang diulang setiap pekan, bulan, tahun dan lain-lain.
Ramadhan adalah salah satu dari momen tersebut yang selalu datang setiap
tahun. Ketika seorang hamba tenggelam dalam kelalaian karena harta benda,
anak istri, dan perhiasan dunia lain yang membuat dia lupa kepada Rabbnya,
terbius dengan godaan setan, dan terjatuh ke dalam berbagai macam bentuk
maksiat datanglah bulan Ramadhan untuk mengingatkannya dari kelalaiannya,
mengembalikannya kepada Rabbnya, dan mengajaknya kembali memperbaharui
taubatnya. Ramadhan adalah bulan yang sangat layak untuk memperbarui taubat;
karena di dalamnya dilipatgandakan kebaikan, dihapus dan diampuni dosa, dan
diangkat derajat. Jika seorang hamba selalu dituntut untuk bertaubat setiap
waktu, maka taubat pada bulan Ramadhan ini lebih dituntut lagi; karena
Ramadhan adalah bulan mulia, waktu dimana rahmat-rahmat Allah turun ke bumi.
Mana para pendosa? Mana orang-orang yang melampaui batas? Mana orang-orang
yang selalu bermaksiat kepada Allah siang malam? Mana orang-orang yang
membalas nikmat Allah dengan maksiat, memerangi Allah di bumi-Nya, dan
menentangnya dalam kekuasan-Nya? Segeralah bertaubat! Karena tak satu pun
dari kita yang bersih dari dosa dan bebas dari maksiat. Pintu taubat selalu
terbuka dan Allah senang dan gembira dengan taubat hambanya. Taubat yang
sungguh-sungguh atau taubat nasuha adalah dengan meninggalkan maksiat yang
dilakukan, menyesali apa yang telah dilakukan, dan berjanji untuk tidak
kembali mengulangi maksiat tersebut, dan jika dosa yang dilakukannya
berkaitan dengan hak orang lain hendaknya meminta maaf dan kerelaan dari
orang tersebut.

3) Mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan puasa dan ibadah Ramadhan lain.
“Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim” (HR. Ibnu Majah). Ilmu yang
Rasulullah Saw. maksudkan dalam hadits ini adalah ilmu yang berkaitan dengan
pelaksanaan ibadah yang Allah wajibkan kepada setiap hamba. Setiap muslim
wajib mempelajari ilmu tersebut; karena sah atau tidaknya ibadah yang
dilakukannya tergantung dengan pengetahuannya tersebut. Seorang yang ingin
melakukan shalat wajib mengetahui syarat-syarat atau rukun-rukun atau
hal-hal yang membatalkan shalat dan lain-lainya, agar shalatnya sesuai
dengan tuntutan agama. Begitu juga bulan Ramadhan di bulan ini Allah
mewajibkan kepada setiap muslim yang mampu untuk berpuasa. Maka sudah
menjadi kewajiban setiap muslim untuk membekali dirinya dengan hal-hal yang
berkaitan dengan syarat-syarat dan rukun-rukun puasa, hal-hal yang
membatalkan puasa, hal-hal yang dimakruhkan dan dibolehkan dalam puasa,
hal-hal yang membatalkan puasa dan lain-lain supaya puasa yang dilakukannya
sesuai dengan tuntunan syariah dan perbuatannya tidak sia-sia. Di samping
pengetahuan yang berkenaan dengan puasa, pengetahuan-pengetahuan lain yang
berkaitan dengan Ramadhan juga perlu seperti anjuran-anjuran,
prioritas-prioritas amal yang harus dilakukan dalam Ramadhan, dan lain-lain
agar setiap muslim dapat mengoptimalkan bulan ini sebaik mungkin.

4) Persiapan fisik dan jasmani.
Menahan diri untuk tidak makan dan minum seharian penuh selama sebulan tentu
memerlukan kekuatan fisik yang tidak sedikit, belum lagi kekuatan yang
dibutuhkan untuk menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan shalat tarawih dan
shalat sunnah lainnya, ditambah kekuatan untuk memperbanyak membaca
Al-Qur’an dan beri’tikaf selama sepuluh hari di akhir Ramadhan. Kesemua hal
ini menuntut kita selalu dalam kondisi prima sehingga dapat memanfaatkan
Ramadhan dengan optimal dan maksimal. Melakukan puasa sunnah pada sebelum
Ramadhan adalah salah satu cara melatih diri untuk mempersiapkan dan
membiasakan diri menghadapi Ramadhan. Oleh karenanya Rasulullah Saw.
mencontohkan kepada umatnya bagaimana beliau memperbanyak puasa sunnah pada
bulan Sya’ban, sebagaimana yang diwartakan Aisyah: “Aku tidak pernah melihat
Rasulullah Saw. berpuasa selama sebulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan
dan aku tidak pernah melihat beliau berpuasa (sunah) lebih banyak dari bulan
Sya’ban.” (Muttafaq Alaih)
Inilah diantara hal-hal yang mesti dipersiapkan untuk menyambut datangnya
bulan kesabaran ini.

Amalan-amalan sunah pada bulan Ramadhan:
Selain puasa yang Allah wajibkan pada bulan Ramadhan ada berbagai amalan
yang disunahkan pada bulan ini di antaranya:
1. Mengkhatamkan Al-Qur’an
Bulan Ramadhan adalah bulan Al-Quran. Pada bulan inilah Al-Qur’an pertama
kali turun dari lauhul mahfuz ke langit dunia sekaliagus. Allah berfirman:

Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran
sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk
itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)(al baqarah: 185)

Ibnu Abbas RA berkata; “Nabi (Muhammad SAW) adalah orang yang paling
dermawan diantara manusia. Kedermawanannya meningkat saat malaikat Jibril
menemuinya setiap malam hingga berakhirnya bulan Ramadhan, lalu Nabi
membacakan al-Quran dihadapan Jibril. Pada saat itu kedermawanan Nabi
melebihi angin yang berhembus.”

Hadist tersebut menganjurkan kepada setiap muslim agar bertadarus al-Quran,
dan berkumpul dalam majlis al-Quran dalam bulan Ramadhan. Membaca dan
belajar al-Qur’an bisa dilakukan di dihadapan orang yang lebih mengerti atau
lebih hafal al-Quran. Dianjurkan pula untuk memperbanyak membaca al-Quran di
malam hari.
Dalam hadist di atas, mudarosah antara Nabi Muhammad saw dan Malaikat Jibril
terjadi pada malam hari, karena malam tidak terganggu oleh
pekerjaan-pekerjaan keseharian. Di malam hari, hati seseorang juga lebih
mudah meresapi dan merenungi amalan dan ibadah yang dilakukannya.

2. Shalat tarawih
Rasulullah Saw. bersabda: “Barang siapa yang menghidupkan malam bulan
Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah akan diampuni
dosa-dosanya yang telah lalu.” Shalat tarawih atau qiyam Ramadhan tidak ada
batasannya. Sebagian orang mengira shalat tarawih tidak boleh kurang dari 20
rakaat, sebagian lain mengira tidak boleh lebih dari 11 atau 13 rakaat. Ini
adalah pendapat keliru yang menyalahi dalil. Hadits-hadits menunjukkan bahwa
shalat malam adalah perkara yang luas, tidak ada batasan yang tidak boleh
dilanggar. Bahkan ada riwayat yang jelas mengatakan bahwa nabi Saw. pernah
shalat 11 rakaat, terkadang 13 rakaat atau kurang dari itu. Ketika ditanya
tentang shalat malam beliau bersabda: “Dua rakaat dua rakaat, jika seseorang
diantara kalian khawatir masuk waktu subuh hendaklah shalat satu rakaat
witir.”

3. Memperbanyak doa
Orang yang berpuasa ketika berbuka adalah salah satu orang yang doanya
mustajab. Oleh karenanya perbanyaklah berdoa ketika sedang berpuasa terlebih
lagi ketika berbuka. Berdoalah untuk kebaikan diri kita, keluarga, bangsa,
dan saudara-saudara kita sesama muslim di belahan dunia.

4. Memberi buka puasa (tafthir shaim)
Hendaknya berusaha untuk selalu memberikan ifthar (berbuka) bagi mereka yang
berpuasa walaupun hanya seteguk air ataupun sebutir korma sebagaimana sabda
Rasulullah yang berbunyi:” Barang siapa yang memberi ifthar (untuk berbuka)
orang-orang yang berpuasa maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa
tanpa dikurangi sedikitpun”. (Bukhari Muslim)

5. Bersedekah
Rasulullah Saw. bersabda: “Sebaik-baik sedekah adalah sedekah pada bulan
Ramadhan” (HR. Tirmizi).
Ibnu Abbas RA berkata; “Nabi (Muhammad SAW) adalah orang yang paling
dermawan diantara manusia. Kedermawanannya meningkat saat malaikat Jibril
menemuinya setiap malam hingga berakhirnya bulan Ramadhan, lalu Nabi
membacakan al-Quran dihadapan Jibril. Pada saat itu kedermawanan Nabi
melebihi angin yang berhembus.”
Dan pada akhir bulan Ramadhan Allah mewajibkan kepada setiap muslim untuk
mengeluarkan zakat fitrah sebagai penyempurna puasa yang dilakukannya.

6. I’tikaf
I’tikaf adalah berdiam diri di masjid untuk beribadah kepada Allah. I’tikaf
disunahkan bagi laki-laki dan perempuan; karena Rasulullah Saw. selalu
beri’tikaf terutama pada sepuluh malam terakhir dan para istrinya juga ikut
I’tikaf bersamanya. Dan hendaknya orang yang melaksanakan I’tikaf
memperbanyak zikir, istigfar, membaca Al-Qur’an, berdoa, shalat sunnah dan
lain-lain.

7. Umroh
Ramadhan adalah waktu terbaik untuk melaksanakan umrah, karena umroh pada
bulan Ramadhan memiliki pahala seperti pahala haji bahkan pahala haji
bersama Rasulullah Saw. Beliau bersabda: “Umroh pada bulan Ramadhan seperti
haji bersamaku.”

8. Memperbanyak berbuat kebaikan
Bulan Ramadhan adalah peluang emas bagi setiap muslim untuk menambah
‘rekening’ pahalanya di sisi Allah. Dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu
Khuzaimah dan Baihaki dikatakan bahwa amalan sunnah pada bulan Ramadhan
bernilai seperti amalan wajib dan amalan wajib senilai 70 amalan wajib di
luar Ramadhan. Raihlah setiap peluang untuk berbuat kebaikan sekecil apapun
meskipun hanya ‘sekedar’ tersenyum di depan orang lain. Ciptakanlah kreasi
dan inovasi dalam berbuat kebaikan agar saldo kebaikan kita terus bertambah.
“dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.”

Semoga kita termasuk orang-orang yang bisa memanfaatkan momentum Ramadhan
untuk merealisasikan ketakwaan diri kita dan bisa meraih predikat “bebas
dari neraka.” Amin
Wakullu Am wa Antum bikhair

Share

2 Responses to “Marhaban yaa Ramadhan….”

  1. Tulisan yg menarik,Makasih telah menampilkan komentar kami, jika tidak keberatan silahkan berkunjung ke website kami.

  2. Lyza says:

    Frankly I think that’s aslboutely good stuff.

Leave a Reply

*